Profesionalitas
[Kali ini saya akan coba pilih warna terang untuk menulis]
Bukan karena ada apa2 atau perasaan hati yang sedang gimana gitu tapi cuma iseng ajah..hehe..
Sebenarnya saya masih ragu, hal apa yang akan saya tulis kali ini. Inspirasi berasal dari seseorang yang saya kenal [tapi ga kenal banget sih], dia hanya menuliskan pengalaman pribadinya secara eksplisit tapi dibacanya cukup menarik. Menggunakan bahasa sehari-hari terkadang dengan penggunaan bahasa yang tidak lazim buat saya [please deh dasar ONCE* nih]. Tutur bahasanya begitu halus dan santun dan sesekali mengimbuhkan kata-kata atau kalimat "keislaman", beda sekali dengan saya yang dalam menulis menggunakan bahasa semau gw :p. Dalam blog-nya dia menuturkan tentang banyak hal mulai dari perasaannya sampai dengan pemikirannya. Ya sebenernya setiap blog biasanya memang berisi tentang hal2 itu sih.
Dan kali ini saya mau cerita [yup cuma pengen cerita doank koq] tentang profesionalitas dalam bekerja rodo berat kethok’e*. Cuma ingin sekedar sharing aja tentang bagaimana sebaiknya kita bertanggung jawab atas pekerjaan. Saya adalah seorang operator GIS [Geographic Information System] yang kebetulan bekerja sebagai pegawai tidak tetap di bidang pemetaan sebuah departemen yang mengurusi pekerjaan publik. Tugas saya adalah membuat peta yang nantinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan publik.
Saya, biarpun tidak ahli untuk mengoperasikan software2 yang dipakai saat ini, tapi saya berusaha dengan sangat untuk bisa bagaimanapun caranya. Dengan bertanya terus-menerus-lah,mencatat-lah,meminta tolong-lah,dsb [sampai2 rekan kerja menjuluki saya sebagai slowlearner]. Tapi saya ga peduli apapun kata mereka yang penting i can do it gitu ajah.
Nah untuk kata profesionalitas yang tadi saya tekankan di atas adalah karena ketidaksepahaman saya dengan ‘rekan kantor’ ya sebutlah begitu dengan tindakan dan cara kerjanya yang ‘semau gw‘ itu. Saya tau dia capek, saya juga, orang-orang yang bekerja juga pasti akan mengalami kelelahan jika bekerja, itu manusiawi menurut saya. Dan sekali lagi, kerja itu ga ada yang enak, semua itu berat tapi kalau dikerjakan dengan ikhlas ya ga akan terasa kok capeknya. Kalau dipikir kerjaan dia lebih mudah dari saya, tidak perlu duduk berjam-jam sambil melototin komputer dan ceklak-ceklik untuk proses editing, revisi, dan cek plot peta. Yang dilakukannya hanya duduk [mengisi tts] terkadang berjalan jika disuruh, membeli makanan, membuat minuman, dan selebihnya duduk di depan komputer lantas chating. That’s it. Tapi hanya untuk datang lebih awal dan pulang paling akhir apa salahnya sih??kan memang itu tugas dia tho??secara dia yang membawa kunci ruang kantor ini. Ketidak profesionalan dia semakin terlihat akhir-akhir ini karena seringnya dia datang siang, lebih siang dari saya kalau hari-hari biasa, padahal kerjaan saya&orang2 yang menunggu lainya menumpuk. Terlebih jika bu bos dinas keluar kota dia akan dengan leluasannya datang sangat siang karena tahu tidak akan ada yang mengomelinya. Kemudian sudah mulai gusar jika menjelang sore [alias mengusir untuk pulang jika bu bos telah meninggalkan ruangan] hmmm kadang menjengkelkan sekali. Tapi yang paling terlihat adalah sifatnya yang pilih kasih terhadap sesama karyawan, dia akan sangat baik sekali malah memperlakukan seperti tuan bahkan saudara jika orang itu baik. Seharusnya dia tidak bersikap demikian, tapi apa daya??. Sebenarnya saya mungkin termasuk orang yang diperlakukan baik, tapi kadang kala itu semua menjadi pembelaan sesaat ketika saya harus berlapang dada jika dia mulai bertidak ‘semau gw‘. Tapi yang paling saya tak habis fikir adalah keberanian dia untuk mengusir [katakanlah] atasan yang punya banyak kerjaan sehingga menuntut dia pulang lebih sore [tepatnya agak malam]. GILE. Semakin tidak respect-lah beliau-beliau sang atasan itu, dan beberapa rekan kerja juga. Sudah banyak keluhan tentang ketidak [sekali lagi] profesionalitas dirinya terhadap pekerjaan. Saya cuma khawatir kalau karirnya [ciyeh karir, kerjaan maksudnya] akan hancur jika dia terus menerus seperti ini dan tidak mengalami perubahan, yang akan rugi dia sendiri, ya karena itu tadi ‘tanggung jawab’ akan pekerjaannya. Tapi setelah dinasehati bukannya merubah sikap malah keluhan dan keluhan yang saya dengar setiap harinya. Hhhhh capee deee
Mungkin saya juga perlu mengintropeksi diri *kali* untuk tidak berbuat sekehendaknya atau tidak profesional terhadap pekerjaan. Ya selama ini sih masih bisa diatasi selama bos dan rekan kerja dapat diajak untuk bekerjasama. Sangat tidak menyenangkan jika pekerjaan dilakukan tanpa keikhlasan dan tanggung jawab, karena ujung-ujungnya akan merugikan banyak pihak.
Akhirnya saya cuma bisa berkata dalam hati [dan menulis tentunya :p] "yah terserah elo deh mo gimana? yang pasti lo tuh harus profesional sama pekerjaan lo dan ga usah deh ngeluh2 tentang kerjaan ataupun orang2 kantor, toh itu udah jadi tanggung jawab lo lagi" and the last would i say "capee dee ngomong sama tembok, yang ada mental lagi *fuih*"
ONCE : OON Cekali [sekali]
rodo berat kehtok’e : agak berat nih kayanya
best regards
enon enie
[di sela-sela waktu 'tak sibuk',,ciyehh sok berkarier nih yee :))]